This time I want to share an experience one of my friend hmm.. may not long time ago. First I will ask permission to use “bahasa” because … suka-suka yang nulis dong. Xp  Seperti biasa cerita kita dari sudut pandang orang pertama dan kedua yoo.. biar lebih greget.. selamat membaca, semoga bermanfaat, kalo tidak, yah abaikan saja toh anda baca saat sedang waktu luangkan hehe.. (peace.. ^^v in deep of my heart so sorry to waste your time).

Suatu hari saya dan tiga teman kerja rencana berbuka puasa (makan malam) bersama di sebuah mall dekat kantor. Status saya hanya penumpang sebut saja saya “K”, dan yang menyetir sebut “E”, lalu pemilik mobil sebut “I”, dan satu teman lagi yang termuda  dan sebagai pelengkap sebut saja “L”. Usai makan malam kami kembali menuju kantor kami. Untuk gambaran awal perlu saya jelaskan formasi duduk kami di dalam mobil semi sedan (ga boleh sebut merk). Sopir adalah “E” di kanan depan, “I” di kiri depan, “L” di kiri belakang, dan saya “K” di kanan belakang. Tidak jauh dari simpang lampu merah mall adalah pintu masuk ruko (kantor) kami.

Tepat saat akan berbelok ke kanan, saya menoleh kearah kanan, dan terkejut sebuah “moge”(no merk). Dengan dua penumpang sudah berjarak hanya beberapa sentimeter dari mobil dan dalam kecepat tinggi, tidak selang sepersekian detik terdengar bunyi “bruaak…” dan pengendara sepeda motor tersebut terpental ke arah kaca mobil yg tepat di hadapan saya, (jika di bayangkan seperti dalam film, sedikit lucu bila di kita lihat difilm), namun dalam realita sama sekali tidak lucu karena pengalaman saya kecelakaan dahulu kala. Sedangkan penumpang di belakangnya sempat meloncat dari motor sehingga baik-baik saja (sebut saja S2, dan pengendara sebut S1).

Spontan kami berhenti dan turun dari mobil. Tim invetigasi memberi informasi: kondisi mobil lampu kanan belakan pecah, body mobil penyok di dua sambungan, dan ban kanan belakang pecah akibat benturan yang cukup keras, 4 orang di dalam mobil baik-baik saja. Lalu kondisi “moge” itu juga cedera, susspensi depannya patah, dan stang motor bengkok, pengendara S2 baik-baik saja, namun S1 yang terpental kakainya bengkok dan entah seberapa parah apa hingga patah. S1 lemas tak berdaya di TKP, lalau kami turun dari mobil dan pertama menepikan S1 yang terluka dari jalan raya. Ternyata pemilik motor ialah S2, dan mereka dalam perjalan habis membeli makanan untuk berbuka puasa dengan temannya. Mobil kami tepika masuk ruko dalam keadaan pincang sebelah.

Disinilah dimulai keteganan antara kedua belah pihak. Dimana saling menyalahkan, ditengah perdebatan antara S2 selaku pemilik motor dan E selaku pemngemudi yang merasa bertanggung jawab atas mobil I, mencoba menuntut mencari kebenaran. Jika di lihat dari posisi dan lainnya dari tim investigasi memang itu di jalur kanan dimana bisa jadi kesalahan ada pada motor. Sebelum lanjut saya jelaskan mengapa pengendara motor diberi inisial S1 dan S2, karena mereka adalah security dari kawasan ruko berbeda. Lalu kami coba menyadarkan S1 yang meringis kesakitan dan terlihat lemas. Ditengah ketegangan S2 terlihat sibuk menelepon, mengatakan menghubungi ayah dari S1. Lalu Pak I, selaku pemilik mobil memberikan kebijakan mengajak berdamai, agar tidak perlu di bawa ke ranah hukum.

Karena kasihan dengan S1 yang sedang terluka, dan menyarankan untuk segera di bawa berobat secepatnya. Lalu S2 memberikan telpon yang dikata ayah dari S1, menuntut yang tidak sedikit. Ditengah perdebat yang terpancing emosi adalah S2 dan E. Hingga mengeluarkan kata-kata kasar dan mengajak berkelahi (E adalah orang Kalimantan), namun kami tahan. Di tengah suasana yang tegang, tiba-tiba berdatangan 6-7 motor teman S1 dan S2, semua security dan berpakaian seragam lengkap dengan lencana dan pemukulnya. Sampai dititik itu saya dan “L” yang hanya menjadi pengamat berpikir ini sudah intimidasi. Dan tidak mungkin di satu shift jaga satu pos semua yg datang berpakaian lengkap. Dan kami berempat mengenakan kemeja kantoran. Skenario terburuk ya pukul-pukulan walau saya sendiri belum pernah terlibat perkelahian macam ini. Saya hitung mereka sekitar 11-12 orang, kami berempat. Berarti 1 vs 3, ditambah mereka security  ……. lalu tak lama datang teman mereka membawa mobil menaikkan S1 dan membawanya ke tukang urut terdekat untuk segerea diobati. Lalu si I selaku pemilik  mobil yang menyatakan bersedia membantu biaya urut, dan dipaksa ikut serta dengan mereka.

Lalu I meminta E memarkirkan mobilnya dan mengambil motor. Belum juga E kembali membawa motor, S2 dengan emosi memaksa I untuk naik motor dengan mereka saja kesana untuk tanggung jawab. Lalu I meminta L untuk mencari E dan segera menyusul. Dan saya yang diminta menemani I ikut rombongam motor mereka. Saya ikut bonceng dengna S2 karena saya tahu yang paling emosi dan berperan saat ini adalah dia selaku pemilik motor ditambah dengan emosi yang meledak-ledak. Diperjalanan masuk kedalam kampung tak juga kami lihat mobil yang lebih dulu jalan. Terbesit rasa curiga (karena ternyata saya sendiri masih takut akan kematian), kemungkinan terburuk kami berdua dikerjai dimana kami sudah di pedalaman dan tidak ada yang tahu. Lalu saya titip pesan pada seorang teman yang saya percaya jika ini berakhir buruk. Selama diperjalanan saya coba ajak bicara S2 dan alihkan ke pembicaraan ringan dan jauh dari kecelakaan itu, lalu perlahan ia mulai tenang. Setelah hampir 30 menit putar-putar entah kemana akhirnya kami sampai di lokasi praktek urut. Selama proses pengabotan saya diam di dalam hingga selesai dan mencoba membantu menenangkan security yang terus teriak kesakitan sambil pancarkan cinta kasih, dengan berharap semoga ia tidak terluka parah dan dapat pulih normal tanpa cacat. Setelah di buka seluruh pakaiannya, beruntung ternyata hanya luka gores tidak dalam di bagian kaki, memar lutut, dan pergelangan kaki terkilir. Lucu dan heran juga seorang pria security kenapa teriak-teriak hanya cedera segitu, yang penting beliau baik-baik saja (^_^)

Singkatnya 1 jam kemudian pengobatan selesai dan S1 sudah dapat berjalan kembali walau masih kesulitan. Tak lama setelah kami duduk dan berbincang santai. S1 dan S2 meminta maaf dan mengucap terima kasih. Kapten mereka pun datang dan mencoba diskusi, lalu disepakati berdamai dan biaya pengobatan saat ini ditanggung I, dan kami berdua diantar ke kantor dengan mobil kaptennya. Kecelakaan ini berakhir dengan damai dan beruntung tidak ada korban jiwa. Pesan moral..?? entahlah, hanya cerita buruk yang berakhir cukup beruntung dan baik dengan banyak pengharapan baik (doa) dan berpikir positif walau muncul banyak probabilitas negatif.

Demikian cerita tentang Security yang Bangkit dari Cedera. Selamat malam.. Selamat beristirahat.. ^^

By: Ucok (kuroisenko)

Advertisements