Kemarin saya berjumpa dengan satu dari tiga Guru Besar (the 3 Master) dalam hidup ini. Setelah berlalu lebih dari 5 tahun beliau masih ingat dan rasa kedekatan secara emosional walau hanya pernah jumpa 3-4 kali masih terasa menginspirasi.

Sedikit tentang beliau, beliau adalah Pertapa yang sudah sekitar 5 tahun menjalani kehidupan di hutan Srilangka. Berinteraksi dengan ular, gajah, beruang, harimau dan lainnya. Banyak kisah pengalaman beliau yang sangat luar biasa dari kehidupan yang amat sederhana.

Walau penulis sendiri menyadari adalah pecundang sejati, saya harap semoga nasihat / sharing dari Beliau dapat menginspirasi anda sekalian yang jauh lebih baik dari saya dan mampu mengerti pesan dari beliau yang saya sendiri belum memahaminya hanya mampu mencatat.

  1. Di mana kita dapat menemukan Truth?? di buku-buku suci, di tempat suci, dimana-mana? ternyata ada di dalam diri kita ini, karena dalam Dhammanussati di jelaskan bahwa kebenaran sangat dekat.
  2. Perlu kita bedakan antara “Kebenaran dan Tentang Kebenaran“; ibarat Bercerita tentang Apel dan kendati merasakan Apel itu secara langsung, Apel sejati harus dicicipi / dialami sendiri bukan dari cerita. Tidak ada satu orangpun termasuk Sang Bhagawa yang hanya menunjukkan cara untuk mengalami dan memahami “Truth”, dan yang harus menjalaninya adalah diri kita sendiri.
  3. Ada 2 (dua) macam beban, Beban Jasmani yang menjadi konsekuensi logis memiliki jasmani dari Kamma buruk kita dimasa lampau yang harus kita terima dengan merawat tubuh ini, dan Beban Mental adalah yang terbuat dari kita mau dikerjai oleh pikiran kita sendiri yang amat sangat “kurang ajar”.
  4. Cara meletakkan beban ialah dengan mengetahui “ketidaksempurnaan dari segala sesuatu”.
  5. Diuraikan oleh Sang Bhagawa, Sati (Perhatian Berkesinambungan) ibarat Tapak kaki gajah yang terbesar, dimana semua tapak kaki hewan lain dapat masuk didalamnya, demikianlah Sati sebagai landasan dasar. (Maha Satipatthana Sutta)
  6. Bagaimana cara melatih Sati? Sati dilatih dengan Meditasi/ Bhawana (Pengembangan Batin) , banyak yang salah mengartikan Meditasi sebagai suatu ritual dimana seseorang duduk bersila, atau sedang berjalan (Cangkamana). Latihan ini sesungguhnya dapat kita lakukan setiap saat dalam aktivitas keseharian. Saat makan, bekerja, belajar, maupun saat bepergian.
  7. Salah satu cara beliau melatih Sati dalam keseharian ialah, “dengan merenungkan kematian (marananussati); Bila saat kita sedang minum teh, renungkan mungkin ini adalah teh terakhir yang akan saya minum. Sehingga tidak perlu terburu-buru dan kita minum teh dengan penuh perhatian dan hidup pada saat ini (present moment) , dan dalam aktivitas lainnya pula”. (*dalam budaya Jepang ada “the art of tea” dimana minum segelas teh dalam waktu 1-2 jam tanpa bertutur satu patah kata pun).
  8. Diibaratkan oleh Sang Bhagawa, seperti seekor kura-kura buta di tengah laut yang setiap 100 tahun sekali memunculkan kepalanya kepermukaan, dan ada sebuah gelang terombang ambing yang berukuran tepat sebesar kepala kura-kura. Pada saat kepala kura-kura berhasil masuk pada gelang tersebut, demikianlah kesempatan kita berhasil terlahir menjadi Manusia. Dalam Dhammapada: “Sungguh sulit terlahir menjadi manusia“. Ya kita adalah makhluk yang beruntung. 🙂
  9. Pengalaman akan kebenaran walau “sesaat” sungguh amat bermanfaat. Ibarat seorang yang terendam di dalam kolam sejak lahir hanya kepala yang muncul di permukaan, dan hingga dewasa di dalam kolam merasakan tekanan air dari segala arah. Pada suatu saat berhasil keluar dari air dan merasakan kelegaan yang luar biasa. Demikian lah saat kita dapat merasakan “kebebasan walau sesaat”.
  10. Yang berikut adalah prinsip hidup beliau selama ini (ada copy right nya loh, tapi sudah diijinkan ^^):

    “Kesulitan apapun yang saya alami,

    saya yakin bahwa saya lebih kuat dari kesulitan tersebut; 

    Jika kesulitan tersebut tidak juga kunjung selesai, maka saya yang akan selesai duluan;”

    “Cukup bersabar saja, saya yakin tidak akan lebih dari 80 tahun kok pasti selesai” ujar beliau. Banyak orang yang tertawa mendengar, tapi ini prinsip serius lo..

  11. “Jika” diberi kesempatan memilih terlahir di keluarga Pangeran Charles atau keluarga pengemis, maka akan memilih mana?? Pilihan Anda?? Banyak yang menjawab ingin di keluarga Pangeran; Lalu beliau menjawab, “jika saya memilih untuk tidak terlahir lagi”. Jangan dipikir kehidupan pangeran terbebas dari kesulitan juga loh..!!
  12. Makhluk yang kuat adalah makhluk yang tidak menggantungkan hidupnya terhadap makhluk lain.

Demikianlah tulisan ini bentuk apresiasi dan hormat penulis kepada beliau. Semoga bermanfaat bagi kita semua, mari kita kurangi kebencian dalam diri, keserakahan dalam diri dan keraguan-kebodohan dalam diri dengan melatih diri hidup saat ini. Mohon maaf dalam bahasa Indonesia karena keterbatasan kemampuan penulis (Sorry for in Indonesian). -SSHB- Love you all..

by: El (kuroisenko)

Advertisements